narasi impresionis. tugas pak andika. hehehe..
Tak Perlulah Aku Keliling Dunia
Autumn Windy Alwasilah[1]
Beberapa waktu lalu, tepatnya saat hujan turun membasahi bumi, dan angin berhembus kencang meniupkan kebahagiaan, saya duduk manis di tepi lapangan luas yang bernama ‘Teater Terbuka’.Disekeliling saya, ada beberapa orang yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tertawa, mengobrol, bahkan sibuk membuka payungnya yang rusak demi sedikitnya terlindungi dari air hujan.Mereka teman satu kelas saya.
Beberapa meter dari tempat kami duduk, ada sekumpulan orang, yang melakukan hal tidak jauh dari apa yang kami lakukan.Satu orang pria berbadan agak besar, duduk bersandar pada tembok, memegang buku tebal yang nampak sangat membosankan untuk dibaca dan diatasnya ada satu helai kertas, yang isinya adalah skor pertandingan futsal yang sedang berlangsung antara kelas kami, melawan senior angkatan 2006.
Tidak ada yang spesial dari pertandingan itu, kecuali anggota tim futsal kelas kami yang hanya ada tiga orang.Sedangkan pemain harus ada enam orang.Akhirnya dua orang wanita rela dan terpaksa turun ke lapangan untuk menjadi kipper dan pemain belakang.Tapi masih kurang satu orang lagi.Akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan seorang anak kecil kelas dua SMP, yang sedang menonton pertandingan untuk bermain ikut berjuang membela kelas kami, dan itu adalah adik saya.
Bisa dibayangkan.Pertandingan futsal antara enam orang pria yang sebagian berbadan besar, melawan satu tim yang isinya hanya tiga orang pria, dua orang wanita yang lebih banyak berteriak karena takut terkena bola, dan satu orang anak kelas dua SMP.Tim kami kebobolan banyak gol.Rasanya saya ingin kembali kerumah saja, dan melupakan pertandingan itu.Malu saya karenanya.Tapi demi kepedulian saya terhadap nasib kelas saya, akhirnya saya memutuskan untuk tinggal, dan melihat kelas kami ditertawakan oleh senior dan anak-anak kelas lain.
Pertandingan berakhir saat langit sudah mulai gelap.Skor akhir saat itu tidak akan saya bahas karena saya kecewa, dan takut anda menertawakannya. Hujan di sore itu belum reda.Teman-teman satu kelas saya langsung kembali pulang kerumah atau ke kostannya, dengan wajah dan perasaan yang nampak berkata, “Ulangi pertandingan ini!”.Saya kemudian bergabung dengan orang-orang kelas 2006 yang membantai kelas kami, sekedar untuk mengobrol dan bersedia untuk menjadi tumbal tertawaan mereka.
Ketika para pemain yang menang sedang duduk melepaskan kelelahan mereka, mata saya tertuju kepada sesuatu yang selama ini menjadi kesukaan saya.Sepasang kaki milik senior yang berbaju merah menyala.Kaki nya kecil, betisnya putih, dan tidak berbulu.Didukung oleh badannya yang kurus, membuat saya terhipnotis.Seketika saya memuji betis indah dan seksi itu.Tapi orang yang ternyata bernama Randy itu menjadi merasa malu.Seolah-olah saya menghina betisnya yang nampak seperti betis perempuan.Tapi saya sama sekali tidak bermaksud untuk menghinanya.
Setelah berkenalan, saya memintanya untuk mengizinkan saya memegang kakinya.Dia mengizinkan saya untuk mencolek kakinya saja.Teman-temannya tertawa kembali menertawakan saya karena berpikir bahwa hanya saya, wanita di dunia ini yang menyukai kali pria seperti itu.Saya memang sangat menyukai pria berbadan kurus.Apakah itu aneh?
Adzan Maghrib telah berkumandang dari masjid besar kampus kami.Setelah berpamitan, saya pulang dengan perasaan yang bercampur aduk.Antara bahagia dan tak sabar untuk menyaksikan kembali pertandingan futsal yang selanjutnya untuk melihat betis seksi tersebut.Sesampainya dirumah saya menceritakan apa yang baru saya lihat kepada Ibu saya, dan teman dekat saya.Mereka berpikir sama dengan apa yang orang-orang pikirkan.Saya aneh.Tidak pantas jika seorang pria berkaki mulus seperti wanita.Ibu saya menyebutnya ‘geuleuh’.Ah, tidak peduli saya akan apa yang mereka katakan.
Tak perlulah aku keliling dunia, karena baru saja saya melihat sepasang kaki paling indaaaaaaaaahhhh sedunia.
*****
[1]Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Kelas A1



