|
Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin
Saya enggak ngerti masalah politik. Tapi saya tau, negara kita ini negara miskin. Yang saya lihat di Kamus Besar Bahasa
Indonesia
(KBBI), miskin itu adalah keadaan serba kekurangan. Penduduknya miskin kekurangan bahan makanan dan uang, pendidikannya miskin karena kurangnya ilmu yang ”tinggal” di otaknya, dan lain-lain. Lalu apa sebabnya sampai ibu pertiwi masuk ke golongan negara miskin?
Banyak sekali faktor yang menjadikan negara kita miskin. Di antaranya, penduduk yang semakin bertambah, lahan pekerjaan yang semakin sempit, sifat malas dan tidak menghargai waktu, kurangnya tingkat pendidikan, kurangnya tingkat kesehatan, tidak disiplin, dan korupsi yang merajalela.
Penduduk yang semakin bertambah, menjadi faktor pertama. Kegagalan keluarga berencana (KB), menjadikan negara kita miskin. Bayangkan, ibu berpenghasilan Rp.5.000,00/hari, harus menghidupi empat orang anaknya. Sensus penduduk tahun 2003 mengatakan bahwa penduduk tahun itu sekitar 238 juta jiwa. Lalu apa bedanya dengan negara Cina? Cina memiliki penduduk terbanyak di seluruh dunia. Tapi, Cina tidak memiliki kekurangan-kekurangan yang kompleks seperti yang negara kita alami. Contohnya, negara Cina bukan negara miskin.
Faktor pertama beranjak menjadi faktor kedua. Terlalu banyak penduduk, berpengaruh kepada lahan pekerjaan. Lahan pekerjaan yang terlalu sempit menimbulkan pengangguran. Sifat malas menjadi faktor ketiga yang membuat negara kita menjadi negara miskin. Coba tengok lampu-lampu merah di jalan-jalan besar. Pemuda-pemuda harapan bangsa yang masih tegap hanya mengamen untuk menghidupi kehidupannya. Orang-orang cacat fisik hanya bisa duduk di pembatas jalan ditemani gelas bekas air mineral. Mengapa tidak ada yayasan yang menampung orang-orang cacat fisik agar terlatih?
Ibu-ibu yang menggendong bayinya hanya bisa mengelap kaca mobil, padahal saya yakin wanita tersebut masih bisa mencuci, menyeterika baju, misalnya untuk memberikan kehidupan bagi dirinya dan anaknya. Tidak hanya itu, orang-orang yang memiliki pekerjaan pun jika memiliki waktu luang, mengapa tidak diisi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bisa menambah penghasilan mereka? Itu jauh lebih baik dibandingkan merokok dan bermain kartu di warung kopi. Kalimat yang paling pantas untuk diberikan kepada penduduk
Indonesia
yaitu, ingin mendapat penghasilan tinggi dengan pekerjaan yang ringan. Padahal semua yang akan kita nikmati bersumber dari keringat kita.
Pendidikan juga berpengaruh pada miskinnya negara kita. Pendidikan di negara kita terlalu mahal. Program wajib belajar 9 tahun nampaknya tidak berjalan dengan baik. Banyak keluarga di golongan menengah ke bawah, yang tidak memedulikan kesehatannya. Mereka hanya memikirkan perut yang penuh terisi, dengan makanan harga murah, tanpa memikirkan gizi untuk kesehatannya. Masih banyak balita kekurangan gizi yang tulangnya hanya dibalut oleh kulit. Sehat itu mahal. Selagi kita masih sehat, jagalah kesehatan kita baik-baik.
Penduduk negara kita tidak disiplin. Orang bisa seenaknya membuang sampah sembarangan. Padahal jelas di
sana
tertulis bahwa ”Buanglah sampah pada tempatnya!”. Akibatnya, negara kita ini menjadi kotor karena sampah yang menyumbat sungai dan menjadi banjir.
Faktor terakhir yaitu korupsi. Korupsi tidak hanya dilakukan oleh pejabat-pejabat tinggi negara kita, ternyata yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah kelas bawah. Lalu apa solusi dari masalah negara kita ini? Seperti 3M apa kata Aa Gym. Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang paling kecil, dan mulailah dari saat ini juga. Hal kecil? Contohnya sampah. Buanglah sampah pada tempatnya. Itu sama sekali tidak sulit. Mari kita mulai agar yang kaya makin kaya karena karyanya, dan agar yang miskin tidak tambah miskin. Kesadaran diri sangat sedikit-demi sedikit menghilangkan predikat ”miskin” di negara kita.
Di 17 Oktober ini, sebagai Hari Anti Kemiskinan, mari kita bergotong royong memakmurkan negara tercinta kita ini. Kalo bukan kita, siapa lagi? ***
Siswa SMA Labschool UPI Bandung
|