tugas apresiasi puisi Pak Andika
Puisi Bukan Sekedar Karya Tapi Juga Harta
Autumn Windy Alwasilah
Puisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait, atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.
Begitupun dengan apa yang saya dan teman-teman saksisan, beberapa hari lalu, di pekarangan gedung University Center, yaitu puisi berbahasa Sunda yang diapresiasi oleh Kang Ayi.Memberikan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.Perhatian kami semua tertuju pada sesuatu yang betul-betul menarik.
Seorang sastrawan mengapresiasikan puisi dengan sihir.Bukan sihir ‘simsalabim’, tapi sastrawan tersebut menyihir kami untuk memberikan perhatian sepenuhnya, kepada apa yang beliau tampilkan.Penjiwaan yang mendalam, mimik muka yang memancarkan emosi, memberikan tanggapan, bahwa beliau cukup ahli dalam bidangnya.
Banyak diantara kami, yang tidak mengerti arti atau makna dari puisi itu, karena banyak dari kami yang tidak mengerti bahasa Sunda.Setelah memberikan tepuk tangan, kita mendiskusikan makna puisi tersebut.Ternyata, puisi yang berjudul “Kongkorongok’ itu menggambarkan kehidupan Presiden Pertama Indonesia, yaitu Soekarno.
Kehidupannya yang dikelilingi banyak wanita, hartanya, kehidupannya, serta orasinya, yang dianggap bisa merubah bangsa Indonesia.Orasinya, atau perkataannya, digambarkan penulis puisi tersebut dengan “Kongkorongok’, atau suara ayam.Segala yang diinginkan oleh beliau saat menjabat sebagai Presiden, bisa dipenuhi hanya dengan “Kongkorongok” saja.Jabatannya, memberikan banyak fasilitas, di kehidupannya.
Setelah diskusi, ada beberapa diantara kami yang memberikan tanggapannya atas puisi tersebut.Baik itu setuju, atau bertentangan dengan pendapat penulisnya.Dan menurut saya, segala sesuatu yang bisa didapatkan Soekarno hanya dengan “kongkorongok” saja, sesuai dengan apa yang dia lakukan sebelumnya.Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.Perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan Republik Indonesia, terbalas oleh kemudahannya untuk mencapai apa yang dia inginkan seolah-olah hanya dengan “kongkorongok” saja.
Diksi dan penganalogian yang tepat, membuat puisi tersebut menarik, tentu saja didukung oleh keahlian mengapresiasikan puisi yang Kang Ayi miliki.Olah vokal yang nyaring, jelas, memperhatikan intonasi, serta olah tubuhnya, membuat saya pribadi merasa setidaknya menikmati dan terhibur, selebihnya tertarik untuk menulis puisi atau belajar mengapresiasikan puisi.
Puisi yang selanjutnya diapresiasi oleh sahabat saya, tidak kalah menarik dengan apa yang sebelumnya saya saksikan.Puisi tersebut menggambarkan kehidupan kota Jakarta, dengan pemerintahannya yang hanya memberikan janji palsu kepada rakyatnya, memakan gaji buta, tinggal di rumah megah, dan jauh dari bentuk harapan pemerintahan yang didambakan para rakyat.
Tanggapan saya, setelah menyaksikan pengapresiasian puisi tersebut, puisi ternyata bisa sangat dinikmati, tidak hanya untuk penulisnya, tapi juga untuk pembacanya.Puisi yang tersusun dari pengetahuan, atau segala sesuatu yang dilihat, diraba, dirasa, didengar oleh panca indera kita, bisa menjadi sarana, untuk mengungkapkan emosi, kesedihan, kebahagiaan, kebimbangan kita.Sebaiknya kita bisa menulis puisi, daripada mengungkapkan segalanya dengan cara yang negatif, atau bisa merugikan orang lain.
Puisi, selain bisa dijadikan sebagai hobi, juga bisa dijadikan aset dalam kehidupan kita.Banyak sastrawan, yang dihidupi oleh puisi-puisi nya.Puisinya yang indah, dan berbobot, bila dinikmati oleh orang lain, setidakntya bisa memberikan kebanggaan terhadap diri sendiri, selebihnya, bisa mendatangkan keuntungan seperti materi.
Puisi bukan hanya karya, tapi juga harta.
*****
Autumn Windy Alwasilah
Pendidikan Bahasa Inggris
A1
0801186


